Cerita Petugas Haji 13 Tahun Tinggalkan Keluarga demi Melayani Tamu Allah

MADINAH – Perawakannya begitu tenang, tidak banyak bicara. Sesekali berujar hanya hal-hal penting saja. Namun, langkahnya kian cepat ketika memenuhi panggilan tugas dan tanggung jawabnya menyelesaikan pekerjaan yang menanti di hadapannya.

Senyumnya yang khas namun ia tetap tegas, tidak melihat siapa dia bila bersalah tetaplah salah, benar ya benar. Kejujuran dan keikhlasan adalah kunci baginya bisa sampai titik seperti sekarang ini.

Itulah sosok Muhammad Khanif, kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, yang mengaku banyak cerita penuh kesan selama 13 tahun mengemban amanah sebagai petugas haji Indonesia.

Pagi itu, waktu menunjukkan pukul 08.30 waktu Arab Saudi, ia baru saja selesai memimpin apel pagi sebelum para petugas haji melancarkan aksinya mengawal jamaah haji Indonesia.

Ia pun bergegas masuk ke ruangannya yang berada di lantai dasar. Rungannya tidak terlalu besar, tapi cukup menampung 15 orang yang akan bertamu.

Tumpukan kertas di ruang meja kerjanya siap ditanda tangani, dipelajari dan siap diimplementasi di lapangan. Bahkan sesekali ia memimpin rapat dan mendampingi anak buahnya yang sedang bekerja di ruangan utama. Bahkan ia pun tidak segan berpanas-panasan lantaran harus meninjau kondisi jamaah di pemondokan.

Di tengah kesibukannya, Khanif masih bersedia menerima Tim Okezone yang pagi itu datang menemui di ruang kerjanya.

Diawali pada 2006, Khanif memulai kiprahnya sebagai pelaksana katering. Waktu itu ia ditempatkan di Kota Makkah.

Seperti petugas lainnya yang baru memulai tugas, pasti ada rasa khawatir gagal dalam mengemban tanggung jawab ini. “Saat itu yang saya rasakan khawatir, waswas bawaanya,” ujar Khanif.

Namun seiring berjalannya waktu, komunikasi antarteman dan atasan membuat dirinya begitu rileks, beban itu pun lepas dengan sendirinya.

“Saya berkeyakinan, apa yang saya kerjakan adalah amanah, dengan penuh tanggung jawab dan semata-mata karena Allah, itulah yang membuat saya begitu mantap,” ungkapnya.

Kadaker Madinah Muhammad Khanif. (Foto: Amril Amarullah/Okezone)

Khanif berujar bahwa menjadi petugas sekarang ini jauh lebih enak ketimbang tiga tahun ke belakang, di mana fasilitas belum sempurna dan selengkap yang ada sekarang ini.

Ia merasakan betul pada 2006 hingga 2013 bertugas di Makkah, ke mana-mana harus berjalan kaki, belum ada kendaraan operasional. Bahkan, bus salawat pun baru ada 2008.

“Kalaupun ada hanya motor Astuti alias Astrea Tujuh Tiga (istilah kendaraan petugas) itu saja. Bus salawat juga baru mulai 2008,” ucap pria kelahiran Yogyakarta 1966 ini.

Menurutnya, bila harus dibandingkan dengan sekarang ini, jelas jauh berbeda fasilitasnya, sekarang luar biasa sekali peningkatannya.

Khanif yang pernah menjabat sebagai sekretaris PPIH Arab Saudi pada 2013 mengaku bangga bisa merasakan bertugas di dua tempat berbeda dengan karakteristik yang juga berbeda.

Makkah meski lebih singkat masa tugasnya, tetapi begitu banyak problematikanya mengingat haji adalah Armina (Arafah, Muzdalifah, Mina) yang terletak di Kota Makkah. Sementara di Madinah, meski waktunya lebih panjang, tetapi penuh warna dan pernak perniknya.

“Tapi buat saya bukan lamanya waktu atau sebentar, tetapi bagaimana kita melayani jamaah dengan hati, yang tidak bisa dihargai dengan uang atau emas permata sekalipun, apalagi ketika jamaah puas dengan layanan kita,” tuturnya.

“Sekecil apa pun yang kita lakukan pasti bermanfaat dan begitu besar artinya bagi jamaah,” katanya lagi.

Bahkan, selama menjadi petugas haji, ia memiliki pengalaman ketika mengantar jamaah, ada yang memberinya uang, hingga pelukan hangat. Tentu saja, pemberian uang itu ditolaknya karena memang bukan itu yang dicari, ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab sebagai petugas haji.

“Bagi mereka dengan memberikan uang sebagai bentuk terima kasih. Ada jamaah yang mengatakan, kok gratis, bahkan ada yang memaksa dengan alasan sadakoh, mereka bila tidak ada paksaan murni ungkapan terima kasih,” ucapnya mengingat.

Biro Umroh Bekasi | Biro Umroh Jakarta Selatan | Biro Umroh Makassar | Biro Umroh Jakarta | Biro Umroh Jakarta Barat | Biro Umroh Jakarta Timur | Biro Umroh Jakarta Pusat | Biro Umroh Bone | Biro Umroh Sinjai | Biro Umroh Mataram | Biro Umroh Denpasar | Biro Umroh Bali | Biro Umroh Sulawesi Selatan | Biro Haji Plus | Biro Umroh Kalimantan Selatan | Biro Umroh Nunukan | Biro Umroh Lampung |

Pemondokan Jemaah Setaraf Hotel Berbintang 3

Jakarta (Sinhat)–Jemaah haji saat berada di Makkah menempati pemondokan yang berbeda-beda. Ada yang letaknya dekat ke Masjidil Haram, namun ada juga yang berjarak agak jauh.

Untuk menentukan pembagiannya agar adil, dilakukan sistem qur’ah, yakni dengan cara pengundian. Proses pengundian sudah berjalan di Jakarta pada tanggal 22 Juni lalu dan dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan dihadiri para pejabat Kementerian Agama di daerah termasuk para pengawas haji.

Total ada 117 hotel di Makkah untuk ditempati sekitar 152 ribu jemaah Indonesia. Mereka tersebar berdasarkan kloter dan embarkasi keberangkatan.

Ada pun pemondokan-pemondokan tersebut terbagi ke dalam enam wilayah, yang terdiri dari Jarwal/Biban, Misfalah/Nakasah, Mahbas Jin, Aziziyah, Raudhah dan Syisah. Pemondokan di Makkah dalam lingkup layanan 52 Maktab yang terbagi menjadi 9 sektor.

Wilayah-wilayah di atas dipilih karena mudah dikenali dan diakses, area jalan yang cukup landai dan akses transportasi yang lebih mudah. Semua pemondokan sudah berstandar hotel berbintang 3 dan 4 dengan jarak terjauh maksimal 4,5 kilometer dari Masjidil Haram.

“Intinya adalah bawa karena masing-masing hotel itu punya lokasi berbeda dari Masjidil Haram. Jadi, demi menegakkan keadilan, supaya tidak ada yang iri satu jamaah dengan yang lainnya. Maka cara yang selama ini kita terapkan adalah dengan diundi. Dengan diundi penempatan jemaah semata-mata undian itu yang menentukan,” kata Menag Lukman.

Para jemaah nantinya akan beraktivitas sehari-hari menggunakan bus salawat. Bus itu akan beroperasi selama 24 jam di luar puncak haji, untuk melayani jemaah dari pemondokan ke Masjidil Haram.

Home Page

Cerita Petugas Haji 13 Tahun Tinggalkan Keluarga demi Melayani Tamu Allah

Cerita Petugas Haji 13 Tahun Tinggalkan Keluarga demi Melayani Tamu Allah

MADINAH – Perawakannya begitu tenang, tidak banyak bicara. Sesekali berujar hanya hal-hal penting saja. Namun, langkahnya kian cepat ketika memenuhi panggilan tugas dan tanggung jawabnya menyelesaikan pekerjaan yang menanti di hadapannya.

Senyumnya yang khas namun ia tetap tegas, tidak melihat siapa dia bila bersalah tetaplah salah, benar ya benar. Kejujuran dan keikhlasan adalah kunci baginya bisa sampai titik seperti sekarang ini.

Itulah sosok Muhammad Khanif, kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, yang mengaku banyak cerita penuh kesan selama 13 tahun mengemban amanah sebagai petugas haji Indonesia.

Pagi itu, waktu menunjukkan pukul 08.30 waktu Arab Saudi, ia baru saja selesai memimpin apel pagi sebelum para petugas haji melancarkan aksinya mengawal jamaah haji Indonesia.

Ia pun bergegas masuk ke ruangannya yang berada di lantai dasar. Rungannya tidak terlalu besar, tapi cukup menampung 15 orang yang akan bertamu.

Tumpukan kertas di ruang meja kerjanya siap ditanda tangani, dipelajari dan siap diimplementasi di lapangan. Bahkan sesekali ia memimpin rapat dan mendampingi anak buahnya yang sedang bekerja di ruangan utama. Bahkan ia pun tidak segan berpanas-panasan lantaran harus meninjau kondisi jamaah di pemondokan.

Di tengah kesibukannya, Khanif masih bersedia menerima Tim Okezone yang pagi itu datang menemui di ruang kerjanya.

Diawali pada 2006, Khanif memulai kiprahnya sebagai pelaksana katering. Waktu itu ia ditempatkan di Kota Makkah.

Seperti petugas lainnya yang baru memulai tugas, pasti ada rasa khawatir gagal dalam mengemban tanggung jawab ini. “Saat itu yang saya rasakan khawatir, waswas bawaanya,” ujar Khanif.

Namun seiring berjalannya waktu, komunikasi antarteman dan atasan membuat dirinya begitu rileks, beban itu pun lepas dengan sendirinya.

“Saya berkeyakinan, apa yang saya kerjakan adalah amanah, dengan penuh tanggung jawab dan semata-mata karena Allah, itulah yang membuat saya begitu mantap,” ungkapnya.

Kadaker Madinah Muhammad Khanif. (Foto: Amril Amarullah/Okezone)

Khanif berujar bahwa menjadi petugas sekarang ini jauh lebih enak ketimbang tiga tahun ke belakang, di mana fasilitas belum sempurna dan selengkap yang ada sekarang ini.

Ia merasakan betul pada 2006 hingga 2013 bertugas di Makkah, ke mana-mana harus berjalan kaki, belum ada kendaraan operasional. Bahkan, bus salawat pun baru ada 2008.

“Kalaupun ada hanya motor Astuti alias Astrea Tujuh Tiga (istilah kendaraan petugas) itu saja. Bus salawat juga baru mulai 2008,” ucap pria kelahiran Yogyakarta 1966 ini.

Menurutnya, bila harus dibandingkan dengan sekarang ini, jelas jauh berbeda fasilitasnya, sekarang luar biasa sekali peningkatannya.

Khanif yang pernah menjabat sebagai sekretaris PPIH Arab Saudi pada 2013 mengaku bangga bisa merasakan bertugas di dua tempat berbeda dengan karakteristik yang juga berbeda.

Makkah meski lebih singkat masa tugasnya, tetapi begitu banyak problematikanya mengingat haji adalah Armina (Arafah, Muzdalifah, Mina) yang terletak di Kota Makkah. Sementara di Madinah, meski waktunya lebih panjang, tetapi penuh warna dan pernak perniknya.

“Tapi buat saya bukan lamanya waktu atau sebentar, tetapi bagaimana kita melayani jamaah dengan hati, yang tidak bisa dihargai dengan uang atau emas permata sekalipun, apalagi ketika jamaah puas dengan layanan kita,” tuturnya.

“Sekecil apa pun yang kita lakukan pasti bermanfaat dan begitu besar artinya bagi jamaah,” katanya lagi.

Bahkan, selama menjadi petugas haji, ia memiliki pengalaman ketika mengantar jamaah, ada yang memberinya uang, hingga pelukan hangat. Tentu saja, pemberian uang itu ditolaknya karena memang bukan itu yang dicari, ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab sebagai petugas haji.

“Bagi mereka dengan memberikan uang sebagai bentuk terima kasih. Ada jamaah yang mengatakan, kok gratis, bahkan ada yang memaksa dengan alasan sadakoh, mereka bila tidak ada paksaan murni ungkapan terima kasih,” ucapnya mengingat.

Biro Umroh Bekasi | Biro Umroh Jakarta Selatan | Biro Umroh Makassar | Biro Umroh Jakarta | Biro Umroh Jakarta Barat | Biro Umroh Jakarta Timur | Biro Umroh Jakarta Pusat | Biro Umroh Bone | Biro Umroh Sinjai | Biro Umroh Mataram | Biro Umroh Denpasar | Biro Umroh Bali | Biro Umroh Sulawesi Selatan | Biro Haji Plus | Biro Umroh Kalimantan Selatan | Biro Umroh Nunukan | Biro Umroh Lampung |

Pemondokan Jemaah Setaraf Hotel Berbintang 3

Pemondokan Jemaah Setaraf Hotel Berbintang 3

Jakarta (Sinhat)–Jemaah haji saat berada di Makkah menempati pemondokan yang berbeda-beda. Ada yang letaknya dekat ke Masjidil Haram, namun ada juga yang berjarak agak jauh.

Untuk menentukan pembagiannya agar adil, dilakukan sistem qur’ah, yakni dengan cara pengundian. Proses pengundian sudah berjalan di Jakarta pada tanggal 22 Juni lalu dan dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan dihadiri para pejabat Kementerian Agama di daerah termasuk para pengawas haji.

Total ada 117 hotel di Makkah untuk ditempati sekitar 152 ribu jemaah Indonesia. Mereka tersebar berdasarkan kloter dan embarkasi keberangkatan.

Ada pun pemondokan-pemondokan tersebut terbagi ke dalam enam wilayah, yang terdiri dari Jarwal/Biban, Misfalah/Nakasah, Mahbas Jin, Aziziyah, Raudhah dan Syisah. Pemondokan di Makkah dalam lingkup layanan 52 Maktab yang terbagi menjadi 9 sektor.

Wilayah-wilayah di atas dipilih karena mudah dikenali dan diakses, area jalan yang cukup landai dan akses transportasi yang lebih mudah. Semua pemondokan sudah berstandar hotel berbintang 3 dan 4 dengan jarak terjauh maksimal 4,5 kilometer dari Masjidil Haram.

“Intinya adalah bawa karena masing-masing hotel itu punya lokasi berbeda dari Masjidil Haram. Jadi, demi menegakkan keadilan, supaya tidak ada yang iri satu jamaah dengan yang lainnya. Maka cara yang selama ini kita terapkan adalah dengan diundi. Dengan diundi penempatan jemaah semata-mata undian itu yang menentukan,” kata Menag Lukman.

Para jemaah nantinya akan beraktivitas sehari-hari menggunakan bus salawat. Bus itu akan beroperasi selama 24 jam di luar puncak haji, untuk melayani jemaah dari pemondokan ke Masjidil Haram.

Biro Umroh Jakarta Selatan | Biro Umroh Makassar | Biro Umroh Jakarta | Biro Umroh Jakarta Barat | Biro Umroh Jakarta Timur | Biro Umroh Jakarta Pusat | Biro Umroh Bone | Biro Umroh Sinjai | Biro Umroh Mataram | Biro Umroh Denpasar | Biro Umroh Bali | Biro Umroh Sulawesi Selatan | Biro Haji Plus | Biro Umroh Kalimantan Selatan | Biro Umroh Nunukan | Biro Umroh Lampung | Biro Umroh Bekasi |